Ambisi Indonesia, Jadi Pemain Utama AI di Asia Tenggara?

Ambisi Indonesia, Jadi Pemain Utama AI di Asia Tenggara?
Ambisi Indonesia, Jadi Pemain Utama AI di Asia Tenggara?

Kudetekno – Indonesia, negara kita tercinta ini, punya cita-cita tinggi, lho. Mau jadi jagoan AI di Asia Tenggara! Bayangin aja, dengan penduduk terbanyak di ASEAN, potensi kita gede banget. Apalagi kalau banyak yang dukung, wah, bisa makin kenceng nih larinya. Tapi, emang beneran bisa? Jujur aja, aku juga sempat mikir, “Wah, ini ambisius banget.” Tapi, ya namanya juga cita-cita, ya kan? Harus setinggi langit biar kalaupun jatuh, masih di antara bintang-bintang, hehe.

Potensi Ekonomi AI di Asia Tenggara

Ngomongin AI, jangan salah, ini bukan cuma soal robot-robotan kayak di film. Ini soal duit! Seriusan. Denger-denger, Boston Consulting Group (BCG) pernah ngeramal, ekonomi ASEAN bisa kebagian cuan sampe USD 120 miliar di tahun 2027 gara-gara AI. Terus, di tahun 2030, total pertumbuhan ekonomi AI di ASEAN bisa nyampe USD 65 miliar. Gede banget, kan? Kebayang nggak tuh, duit segitu banyaknya bisa bikin apa aja. Nah, Indonesia, sebagai macan Asia Tenggara (semoga beneran jadi macan, bukan kucing garong, hehe), pengen banget nih kebagian jatah gede dari kue AI ini.

Peran Telkom dalam Pengembangan AI

Terus, siapa nih yang jadi jagoan buat mewujudkan mimpi ini? Nah, di sini Telkom punya peran penting. Mereka emang udah lama ngincer peluang di bidang AI ini. Bahkan, udah dari sepuluh tahun lalu! Kata Pak Faizal Rochmad Djoemadi, Direktur IT Digital Telkom, mereka udah mulai dengan ngembangin industri vertikal, nyediain platform terintegrasi, dan nge-gass kolaborasi.

Implementasi AI di Berbagai Sektor

Tapi, implementasi AI ini kayak gimana sih? Jadi gini, kata Pak Faizal, sekarang ini penerapan AI tuh masih kayak kepisah-pisah gitu, disesuaikan sama kebutuhan masing-masing sektor industri. Ada sekitar dua belas sektor industri vertikal strategis yang udah mulai nyicipin AI, mulai dari minyak dan gas, pertambangan, sampe kesehatan, asuransi, dan perbankan. Bayangin, semuanya bikin lebih efisien!

Kata Pak Faizal lagi, penting banget buat industri, pemerintah, sama universitas buat kerja sama. Industri yang butuh AI, pemerintah yang bikin aturan, dan universitas yang nyediain talenta dan riset. Komplet, kan?

Pengembangan Solusi AI oleh Telkom

Nah, Telkom sendiri udah mulai ngembangin solusi AI yang diterapkan di setiap tahapan. Ada Big Box, Big One, Big View buat big data; Big Science, Big Social buat machine learning; Big Vision buat deep learning; terus ada Big Assistant sama Big Legal buat generative AI. Keren, kan? Nama-namanya aja udah bikin penasaran.

Layanan-layanan ini udah dipake sama pemerintah sama industri, lho. Contohnya, di Kimia Farma, aplikasi AI Telkom udah dipake buat manajemen rantai pasok. Jadi, data operasional sama pemasaran bisa diintegrasi secara real-time buat mastiin produk tersedia, distribusi lancar, dan pendapatan naik. Pertamina juga pake AI Telkom buat optimalisasi stok sama distribusi BBM. Mitra Prodin juga pake buat otomatisasi perhitungan jumlah linting cones. Intinya, AI bikin semua jadi lebih cepet, akurat, dan efisien.

Terus, buat generative AI, Telkom lagi ngembangin buat proses internal sama eksternal. Ada myindibiz, TelkomGPT, sama Legalpro. Myindibiz itu kayak copilot AI yang nyatuin data B2B buat bantuin pelanggan, Account Manager, sama Business Manager ngambil keputusan. TelkomGPT itu Private GPT yang ngejaga kerahasiaan data internal. Nah, Legalpro itu akselerasi kepatuhan hukum pake AI. Canggih, kan?

Dukungan Pemerintah untuk Pengembangan AI

Nah, selain dari Telkom, pemerintah juga nggak tinggal diem, nih. Kementerian Komdigi sama Kementerian Perindustrian juga pengen nyetak talenta digital yang handal. Soalnya, buat jadi pemain utama AI, kita butuh orang-orang pinter yang bisa ngembangin dan manfaatin teknologi AI ini.

Kebutuhan Talenta Digital di Indonesia

Katanya, Indonesia butuh 12 juta talenta digital di tahun 2030 buat nyokong pertumbuhan ekonomi digital, termasuk AI. Tapi, sekarang kita baru punya sekitar 3 juta talenta digital. Jauh banget, kan? Masih kurang banyak.

Inisiatif Pengembangan Talenta AI

Nah, buat ngejar ketertinggalan ini, Komdigi punya program Literasi Digital sama Digital Talent Scholarship. Terus, lagi dirintis juga program AI Talent Factory yang kerja sama sama perusahaan teknologi global, universitas, dan pihak lain buat ngembangin talenta khusus di bidang AI. Mantap!

Telkom juga nggak mau kalah. Mereka bikin AI Connect sebagai pusat keunggulan AI yang mendorong pengembangan teknologi lewat kolaborasi komunitas. Sekarang, AI Connect udah ada di 9 kota: Jakarta, Makassar, Aceh, Bandung, Malang, Labuan Bajo, Yogyakarta, Bali, dan Papua. Keren, kan? Semakin banyak talenta AI, semakin besar peluang kita buat jadi jagoan di Asia Tenggara.

Apresiasi dari Pemerintah

Langkah-langkah Telkom ini juga dapet apresiasi dari pemerintah, lho. Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, bilang dukungan semacam ini yang bakal diapresiasi dari seluruh industri yang komitmen dan berdedikasi buat ngembangin AI di masa depan. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, juga bilang Indonesia harus mempersiapkan talenta digital buat manfaatin potensi ekonomi AI.

Intinya, ambisi Indonesia buat jadi pemain utama AI di Asia Tenggara itu bukan cuma sekadar mimpi di siang bolong. Ada potensi ekonomi yang gede banget, ada dukungan dari Telkom, dan ada dukungan dari pemerintah. Tapi, yang paling penting, kita butuh talenta digital yang handal. Nah, buat kamu yang lagi bingung mau kuliah apa, mungkin jurusan yang berhubungan sama AI bisa jadi pilihan yang menarik. Siapa tau, kamu bisa jadi salah satu orang yang mewujudkan ambisi Indonesia ini! Gimana? Tertarik nggak nih? Yuk, mulai belajar AI dari sekarang! Siapa tau, suatu saat nanti, kamu bisa bikin robot yang bisa bikinin kopi buat kita semua, kan asik? ***

Punya cara lain, saran, atau malah cerita lucu seputar topik ini? Yuk sharing di kolom komentar! Atau langsung ngobrol bareng tim KudeTekno di WhatsApp.👇

Also Read

Bagikan:

Fikri Maulana

Suka ngulik fisika dan hal-hal yang kelihatan rumit tapi sebenernya seru banget. Nulis biar sains nggak cuma jadi teori di buku.

Leave a Comment