Fakta Unik Film Sore Benar, Kenapa Kutub Utara Tak Butuh Jam Tangan?

Fakta Unik Film Sore Benar, Kenapa Kutub Utara Tak Butuh Jam Tangan?
Fakta Unik Film Sore Benar, Kenapa Kutub Utara Tak Butuh Jam Tangan?

Kudetekno – “Fakta Unik Film Sore, Kenapa Kutub Utara Tak Butuh Jam Tangan?”

Pernah nggak sih, pas nonton film Sore, kamu mikir, “Ah, ini mah lebay, masa Kutub Utara nggak punya zona waktu?” Jujur aja, aku juga sempat mikir gitu. Kayak bumbu drama biar ceritanya makin seru gitu, kan? Tapi, eh, ternyata itu bukan ngarang indah, lho! Seriusan! Fenomena ini beneran ada dan ada penjelasannya secara ilmiah. Jadi, kenapa ya Kutub Utara dan Selatan nggak punya zona waktu kayak kita-kita yang tinggal di daerah tropis atau subtropis ini? Yuk, kita bahas!

Zona Waktu dan Garis Bujur

Oke, jadi gini, sistem zona waktu yang kita kenal itu, kan, dibikin berdasarkan garis bujur. Bumi ini dibagi-bagi jadi 24 zona waktu, masing-masing lebarnya 15 derajat bujur. Nah, patokannya itu di Greenwich, Inggris. Makanya kita sering denger istilah GMT (Greenwich Mean Time) atau UTC (Coordinated Universal Time). Itu semua berpusat di sana.

Terus, apa hubungannya sama kutub? Nah, di sinilah letak masalahnya. Coba bayangin bola dunia. Garis bujur itu kayak garis-garis yang melintang dari atas ke bawah, dari Kutub Utara ke Kutub Selatan. Nah, semua garis bujur itu ketemu di satu titik di masing-masing kutub. Ngerti, kan?

Jadi, kalau kamu bisa berdiri persis di Kutub Utara atau Kutub Selatan, secara teknis, kamu lagi “nongkrong” di semua zona waktu dunia sekaligus! Kayak lagi di persimpangan jalan yang semua arahnya ada, gitu. Jadi, mau milih zona waktu yang mana? Bingung, kan? Makanya, nggak ada zona waktu yang bisa “sah” ditetapkan di wilayah kutub. Ribet juga ya, urusan garis-garis imajiner ini.

Hari dan Malam yang Ekstrem

Selain masalah garis bujur yang “tabrakan”, ada satu lagi faktor penting yang bikin urusan zona waktu di kutub jadi makin rumit: siklus hari dan malam yang nggak biasa. Ini nih yang bikin bingung tujuh keliling.

Kita yang hidup di daerah khatulistiwa atau yang deket-deket situ, kan, terbiasa sama siklus 12 jam siang dan 12 jam malam. Tapi, di kutub? Jangan harap! Di sana ada yang namanya polar day dan polar night. Polar day itu artinya matahari bersinar terus selama 24 jam, berbulan-bulan lamanya! Kebayang nggak tuh, nggak ada matahari tenggelam sama sekali? Kayak nungguin mie instan mateng padahal cuma 3 menit, rasanya lamaaaa banget!

Sebaliknya, polar night itu ya kebalikannya. Gelap gulita selama 24 jam, berbulan-bulan juga. Nggak ada cahaya matahari sama sekali! Bisa bayangin betapa depresinya? Eh, tapi ada juga yang bilang malah seru, bisa liat aurora tiap malam.

Nah, karena siklus siang-malamnya nggak kayak biasanya, konsep waktu harian jadi kurang relevan. Soalnya, mau dibikin zona waktu kayak gimana juga, tetep aja nggak ngaruh sama siklus alamnya. Emang dasarnya udah aneh dari sononya.

Terus, gimana dong sama orang-orang yang tinggal atau kerja di sana? Biasanya sih, mereka pakai zona waktu negara asal mereka atau zona waktu Greenwich (UTC) buat memudahkan urusan. Jadi, bukan karena keharusan geografis, tapi lebih karena praktis aja.

Misalnya, di Antartika, nggak ada zona waktu resmi. Stasiun penelitian McMurdo (milik Amerika Serikat) pakai zona waktu Selandia Baru (UTC+12), karena logistik mereka datengnya dari sana. Sementara stasiun Amundsen-Scott di Kutub Selatan seringnya pakai UTC biar gampang koordinasi sama negara lain. Intinya sih, ya gitu… kamu ngerti lah maksudnya. Fleksibel aja, sesuai kebutuhan.

Time Travel atau Terjebak Waktu di Kutub: Mungkinkah?

Nah, ini nih yang paling seru! Karena nggak ada zona waktu, banyak yang mikir, “Wah, jangan-jangan di kutub bisa time travel!” Atau, “Jangan-jangan di sana kita bisa kejebak waktu!” Ya kan, pasti ada aja yang kepikiran kayak gitu.

Oke, mari kita luruskan dulu. Teori relativitasnya Einstein emang bilang kalau waktu itu bisa dipengaruhi sama kecepatan dan gravitasi. Buat time travel ke masa depan, kita harus gerak mendekati kecepatan cahaya atau berada di medan gravitasi yang super kuat, kayak deket lubang hitam.

Tapi, di kutub? Nggak ada kondisi kayak gitu, cyin! Nggak ada kecepatan cahaya, nggak ada lubang hitam. Jadi, nggak adanya zona waktu itu cuma gara-gara masalah geografis doang, bukan karena ada anomali fisika yang bikin kita bisa lompat-lompat waktu.

Meskipun time travel secara fisik nggak mungkin di kutub (setidaknya dengan teknologi yang kita punya sekarang), tapi kondisi ekstrem kayak polar day atau polar night itu bisa banget mempengaruhi persepsi waktu kita. Bayangin aja, nggak ada siklus siang-malam yang jelas. Jam biologis tubuh kita (ritme sirkadian) bisa kacau balau! Akibatnya? Kita bisa ngerasa waktu berjalan lebih lambat atau lebih cepat. Kayak lagi jetlag parah gitu deh.

Nah, efek psikologis inilah yang mungkin dimanfaatin di film-film kayak Sore buat bikin ilusi time trap. Jadi, karakter-karakternya ngerasa kayak kejebak dalam waktu yang nggak bergerak. Padahal, ya cuma gara-gara persepsi mereka aja yang lagi error.

Eh, ngomong-ngomong, ada juga sih teori-teori spekulatif kayak wormhole (lubang cacing) yang katanya bisa jadi pintu buat time travel. Tapi, ya itu cuma teori doang. Belum ada bukti ilmiahnya kalau wormhole itu beneran ada, apalagi di kutub.

Terus, fenomena kayak aurora borealis di Kutub Utara atau aurora australis di Kutub Selatan, yang disebabkan sama interaksi partikel matahari dengan medan magnet bumi, itu juga nggak ada hubungannya sama perjalanan waktu. Keren sih emang auroranya, tapi ya tetep aja nggak bisa dipake buat teleportasi ke masa lalu.

Jadi, kesimpulannya? Ide soal time travel atau time trap di kutub itu lebih ke fiksi kreatif daripada realitas ilmiah. Ya, walaupun kadang bikin tambah bingung juga sih mikirinnya. Tapi, tetep seru buat dibayangin, kan?

Nah, gimana? Udah paham kan sekarang kenapa Kutub Utara dan Selatan nggak butuh jam tangan? Intinya sih, ya gara-gara masalah geografis dan siklus hari-malam yang aneh. Jadi, jangan percaya kalau ada yang bilang di sana bisa time travel, ya! Mendingan nikmatin aja keindahan alamnya yang super unik itu. Siapa tahu, dengan ngeliat aurora, kamu bisa dapet inspirasi buat bikin film yang lebih keren dari Sore! Gimana, tertarik buat berkunjung? Atau punya pengalaman menarik soal waktu yang nggak biasa? Share dong di kolom komentar! ***

Punya cara lain, saran, atau malah cerita lucu seputar topik ini? Yuk sharing di kolom komentar! Atau langsung ngobrol bareng tim KudeTekno di WhatsApp.👇

Also Read

Bagikan:

Salsabila Rahmawati

Penggemar biologi dan lingkungan. Menulis untuk menginspirasi rasa ingin tahu dan kecintaan pada alam dan sains.

Leave a Comment