Kudetekno – Telko Curhat ke Sri Mulyani, Regulasi Bikin Puyeng!
Pernah nggak sih kamu ngerasa kayak lagi lari maraton tapi kakinya diiket? Nah, kayaknya itu yang lagi dirasain sama industri telekomunikasi di Indonesia sekarang. Bayangin aja, udah berusaha ngebut bangun infrastruktur digital, eh, malah diadang sama regulasi yang bikin puyeng tujuh keliling. Mereka, para pelaku telko ini, baru aja curhat ke Menteri Keuangan soal beban Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang katanya bikin sesak napas. Seriusan, ini bukan cuma sekadar omongan doang, lho!
Tapi, Mastel nggak cuma minta diturunin PNBP doang. Mereka juga punya usulan lain yang menarik. Jadi, ini kayak simbiosis mutualisme gitu.
Investasi Tidak Langsung dari Pemerintah
Mastel ngusulin supaya penurunan tarif atau keringanan formula PNBP ini dilihat sebagai bentuk investasi tidak langsung dari pemerintah. Jadi, pemerintah kayak ngasih suntikan dana buat industri telekomunikasi, tapi nggak langsung dalam bentuk duit. Hasilnya? Layanan telekomunikasi dan internet yang lebih sehat dan merata. Logikanya sih, kalau industri telekomunikasinya kuat, otomatis mereka bisa ngasih layanan yang lebih baik ke masyarakat. Win-win solution, kan?
Kewajiban Mendukung Program Strategis Pemerintah
Nah, ini dia timbal baliknya. Mastel juga mendorong supaya insentif regulasi ini diimbangi dengan kewajiban penyelenggara jaringan internet buat mendukung program strategis pemerintah. Misalnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Jadi, kalau dikasih keringanan PNBP, mereka juga harus berkontribusi buat program-program pemerintah. Biar sama-sama enak, gitu lho.
Pentingnya Kebijakan Fiskal untuk Digitalisasi
Kenapa sih kebijakan fiskal ini penting banget buat digitalisasi? Oke, gue coba jelasin dengan bahasa yang lebih santai.
Fondasi Digitalisasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Digitalisasi itu kayak fondasi buat pertumbuhan ekonomi. Coba bayangin, semua sekarang serba digital. Belanja online, kerja dari rumah, belajar online, semuanya butuh internet. Nah, kalau internetnya lemot, mahal, atau nggak merata, ya susah buat kita bersaing di era digital ini. Jadi, kebijakan fiskal yang mendukung digitalisasi itu sama aja kayak ngebangun fondasi yang kuat buat rumah kita.
Industri Telekomunikasi Perlu Ruang Investasi
Intinya sih, industri telekomunikasi itu perlu ruang buat bernapas, ruang buat investasi, dan ruang buat berkembang. Kalau mereka terus-terusan ditekan dengan beban PNBP yang tinggi, ya susah buat mereka berinovasi. Mereka jadi lebih fokus buat bayar kewajiban daripada buat mikirin gimana caranya ngasih layanan yang lebih baik ke kita. “Digitalisasi adalah enabler utama pertumbuhan ekonomi lintas sektor. Industri telekomunikasi harus diberi ruang agar bisa berinvestasi lebih efisien dan berdaya saing,” tegas Mastel. Setuju banget!
Jadi, gimana menurut kamu? Udah kebayang kan betapa pentingnya peran industri telekomunikasi dalam era digital ini? Mereka butuh dukungan, butuh ruang, dan butuh kebijakan yang nggak bikin mereka sesak napas. Semoga aja curhatan mereka ke Bu Sri Mulyani didengerin dan ada solusi yang terbaik buat semua. Ya, walaupun kadang bikin tambah bingung juga sih mikirin regulasi ini itu. Tapi, intinya sih, ya gitu… kamu ngerti lah maksudnya. Kita semua pengen internet kenceng, harga terjangkau, dan jangkauan luas, kan? Yuk, sama-sama kita dukung industri telekomunikasi Indonesia! Siapa tahu, dengan dukungan kita, internet di Indonesia bisa secepat internet di Korea Selatan. Aamiin! ***
Punya cara lain, saran, atau malah cerita lucu seputar topik ini? Yuk sharing di kolom komentar! Atau langsung ngobrol bareng tim KudeTekno di WhatsApp.👇









