Kudetekno – Komdigi Terapkan Pembatasan Medsos Anak? Ada Tapinya…
Jadi gini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) itu udah resmi nih, menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengamanan Tunas Bangsa alias PP Tunas. Kebijakan yang keluar Maret 2025 ini intinya mewajibkan platform medsos buat ngebatesin akses anak di bawah umur. Seriusan deh, ini bikin Indonesia jadi salah satu negara yang paling ketat urusan perlindungan anak di dunia digital. Kayak Australia gitu, yang duluan nge-larang anak di bawah 16 tahun main medsos. Tapi… ada tapinya nih, nggak plek-ketiplek sama kayak di sana.
Latar Belakang PP Tunas
Pernah nggak sih kamu ngerasa kayak pemerintah tuh diem aja soal bahaya medsos buat anak? Nah, ternyata nggak juga, lho. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Ibu Meutya Hafid, bilang sendiri kalau PP Tunas ini bukan ide dadakan. Malahan, udah dibahas dari awal banget, bahkan sebelum beliau dilantik. “Awalnya fokus judi online, lalu saya sampaikan ada isu lebih besar di belakangnya: perlindungan anak dari bahaya digital,” gitu katanya waktu acara Anugerah Jurnalistik Komdigi 2025. Wah, serius juga ya.
PP Tunas ini lahir bukan sulap, bukan sihir. Tapi hasil diskusi panjang lebar sama Unicef, Kak Seto Mulyadi (psikolog anak idola kita semua!), para psikolog anak lainnya, akademisi, NGO, bahkan sama platform digital itu sendiri. Prosesnya panjang, kayak nungguin mie instan mateng padahal cuma 3 menit. Tapi ya gitu deh, demi kebaikan anak-anak kita.
Mengapa Harus Dibatasi?
Kenapa sih anak-anak mesti dibatesin main medsos? Bukannya ketinggalan zaman, ya? Nah, ini dia yang menarik. Ternyata, survei Statista (Juni-Juli 2025) nunjukkin kalau Indonesia tuh paling tinggi dukungan masyarakatnya buat larangan medsos anak. Angkanya 82%! Di atas Perancis dan Australia. Gila, kan? Jadi, emang udah jadi suara rakyat kayaknya, bukan cuma sekadar ikut-ikutan.
Terus, cerita-cerita tragis yang diangkat para jurnalis tuh bikin kita sadar, ini bukan main-main. Ada kisah anak yang dihujat abis-abisan cuma karena kampanyein bahaya rokok. Dan yang bikin miris, pelaku hujatannya malah anak-anak seumuran dia. Bayangin deh, gimana rasanya. Sedih banget, kan?
Makanya, Ibu Menteri bilang, “Ini bukan anak orang lain. Bisa anak kita, cucu kita. Masalah ini tidak hanya di Jakarta, tapi juga di Sulawesi Selatan, di berbagai daerah, bahkan di seluruh dunia.” Serem juga ya, kalau dipikir-pikir.
Perbedaan Pendekatan Indonesia dengan Australia
Nah, ini dia yang bikin beda. Australia tuh strict banget. Anak di bawah 16 tahun nggak boleh punya akun medsos sama sekali. Titik. Undang-undangnya udah disahkan dan mulai berlaku dengan sanksi. Nggak main-main, bro!
Indonesia? Kita lebih fleksibel. Pertama, usia minimalnya nggak dipukul rata 16 tahun, tapi 13-18 tahun, disesuaikan sama tingkat risiko platform. Soalnya, setiap tumbuh kembang anak, kesiapannya beda-beda. Bener juga sih. Nggak bisa disamain gitu aja.
Terus, Komdigi juga ngasih masa transisi yang lumayan panjang. Buat apa? Supaya platform bisa nyiapin teknologi verifikasi usia berbasis AI yang akurat. Kita kan nggak mau dong, anak-anak ngebohongin umur biar bisa main medsos.
“Kita tidak ingin mematikan inovasi. Kita yakin platform sudah punya teknologi AI yang mumpuni untuk membedakan anak dan dewasa. Masa transisi ini justru untuk memastikan implementasi berjalan mulus tanpa mengganggu kemajuan teknologi,” jelas Ibu Menteri. Intinya sih, kita pengen yang terbaik buat anak-anak, tanpa ngalangin kemajuan zaman.
Masa Transisi dan Teknologi Verifikasi Usia
Masa transisi ini emang penting banget. Kita nggak mau kan, kebijakan baru langsung bikin rusuh dan nggak efektif? Platform medsos dikasih waktu buat bener-bener nyiapin sistem verifikasi usia yang oke.
Ngomong-ngomong soal teknologi verifikasi usia, ini emang PR besar sih. Gimana caranya ngebedain anak beneran sama akun bodong yang dibikin orang dewasa? Kan banyak tuh yang kayak gitu. Nah, disinilah peran AI diuji. Moga-moga aja AI-nya nggak ketipu sama foto profil anak kecil, ya. Hehehe.
Tujuan Utama: Melindungi Anak dari Dampak Negatif
Jadi, tujuan utamanya PP Tunas ini apa sih? Ya, buat ngelindungin anak-anak kita dari dampak negatif medsos. Ibu Menteri Hafid tegas banget soal ini. Menurut beliau, PP Tunas ini intinya memotong akses industri digital yang selama ini bisa langsung nyentuh sekitar 80 juta anak Indonesia. Gokil, banyak banget!
“Kita bukan anti teknologi. Kita ingin anak-anak bisa menikmati manfaat digital seperti belajar, berkreasi, dan bersosialisasi-tapi saat mereka sudah SIAP, sama seperti kita menunda anak menyetir mobil sampai usia tertentu,” paparnya. Bener juga sih, analoginya pas banget.
Dan yang nggak kalah penting, edukasi ke orang tua (digital parenting), guru, dan anak itu sendiri masih jadi PR gede. Gimana caranya ngajarin anak buat bijak bermedsos? Gimana caranya orang tua ngawasin anak tanpa bikin mereka berontak? Itu semua perlu dipikirin mateng-mateng.
Intinya sih, PP Tunas ini bukan solusi instan. Tapi ini adalah langkah awal yang penting. Kayak nanam bibit, perlu dirawat dan disiram biar tumbuh subur. Dan butuh kerjasama dari semua pihak.
So, gimana menurut kamu soal “Komdigi Terapkan Pembatasan Medsos Anak”? Apakah ini langkah yang tepat? Atau malah bikin anak-anak ketinggalan zaman? Share pendapat kamu di kolom komentar, ya! Siapa tahu kita bisa diskusi seru bareng. ***
Punya cara lain, saran, atau malah cerita lucu seputar topik ini? Yuk sharing di kolom komentar! Atau langsung ngobrol bareng tim KudeTekno di WhatsApp.👇









